Cara Mengetahui Warna yang Digunakan Sebuah Website



Pernahkah kita mengunjungi sebuah website lalu terkesan dengan pemilihan warnanya? Bagi orang yang suka otak-atik tampilan blog pasti pernah mengalaminya.

Lalu bagaimana cara kita mengetahui warna yang digunakan dengan tepat? Padahal warna itu ada jutaan. Kalau hanya mengira-ngira, biasanya cenderung salah.

Agar bisa mengetahui kode warna dengan mudah dan tepat, kita bisa menggunakan ekstensi yang bernama ColorZilla. Ekstensi ini tersedia di Chrome dan Firefox.

Untuk Google Chrome, tinggal masuk saja ke Chrome Web Store dan ketik ColorZilla. Setelah muncul, klik tambahkan ke Chrome.



Kalau untuk Mozilla Firefox, caranya juga hampir sama. Tinggal masuk ke Extensions. Di kolom pencarian sebelah kanan, ketik ColorZilla lalu klik install.



Untuk menggunakan ektensi ini tinggal tekan icon ColorZilla yang ada di sebelah kanan atas. Nanti akan muncul semua fiturnya.



Arahkan cursor ke warna yang ingin kita ketahui. Nanti akan langsung terlihat di bagian atas. Kalau kita klik, otomatis akan mengcopy kode warnanya. Contohnya seperti warna merah di bawah ini.



Kalau ingin mengetahui semua warna yang digunakan sebuah website, klik Webpage Color Analyzer. Semua warna akan muncul berdampingan. Kita bisa langsung melihat kode warnanya.


Ada beberapa fitur dalam ekstensi ini. Semuanya mudah digunakan dan bisa dipelajari sendiri ketika sudah menginstallnya di browser. Berikut beberapa screenshots-nya.

Color Picker




 Palette Viewer


Nah, sekarang kita tidak perlu pusing lagi kalau ingin mengetahui warna-warna bagus yang digunakan sebuah website. Tinggal install ekstensi ini dan semuanya akan beres.

Selamat mencoba.

Cara Mengetahui Font Sebuah Website


Cara Mengetahui Font Sebuah Website

Ketika mengunjungi sebuah website, kadang kita merasa penasaran dengan font yang dipakai. Entah karena bentuknya yang unik atau karena enak dibaca.

Untuk mengetahui jenis dan ukuran font, biasanya saya copy dulu ke WPS Writer. Tapi ternyata cara itu sangat tidak efektif. Kadang malah tidak berhasil.

Setelah mencari informasi, akhirnya saya menemukan cara yang efektif. Cukup menggunakan ekstensi WhatFont dan Fontface Ninja yang ada di Google Chrome.

Kebetulan browser utama saya adalah Chrome. Baru kemudian Mozilla dan Opera. Di browser yang lain seharusnya juga ada meskipun namanya mungkin berbeda.

Untuk menambah ekstensi di Chrome, caranya sangat mudah. Tinggal masuk ke Chrome Web Store, ketik WhatFont atau Fontface Ninja lalu klik ADD TO CHROME.

WhatFont

Cara Mengetahui Font Sebuah Website


Fontface Ninja

Cara Mengetahui Font Sebuah Website


Keduanya sama-sama bagus. Namun dari sisi pengguna, WhatFont lebih banyak. Saat ini saya sendiri menggunakan WhatFont karena fiturnya lebih lengkap.

Cara menggunakannya cukup sederhana. Saat mengunjungi sebuah website, klik logo WhatFont yang ada di sebelah kanan atas browser chrome.

Setelah itu, klik pada font yang ingin kita lihat. Nanti akan muncul jenis, ukuran, spasi, dan warna font yang digunakan.

Kalau menggunakan Fontface Ninja, tinggal sorot ke font yang ingin kita ketahui.

Semoga bermanfaat.

Book Review: Dengarlah Nyanyian Angin

Resensi Novel Haruki Murakami


Judul : Dengarlah Nyanyian Angin
Penulis : Haruki Murakami
Penerjemah : Jonjon Johana
Penerbit : KPG
Edisi : 1, Oktober 2008
Tebal : 147 Halaman
Dimensi : 11,5 cm x 19 cm
ISBN : 978-979-91-0137-2

Sinopsis:
Pada musim panas, seorang laki-laki sedang mudik ke kampung halamannya. Di sana ia bertemu dengan beberapa teman dan menghabiskan waktu 18 hari bersama-sama. Selama beberapa hari tersebut banyak jalinan cerita kehidupan yang terjadi, terutama mengenai kegelisahan hidup yang dialami anak-anak muda Jepang pada era 1960-1970.
***
Dengarlah Nyanyian Angin (Hear the Wind Sing) atau dalam bahasa aslinya Kaze no uta o kike adalah novel pertama yang ditulis Haruki Murakami. Novel ini pertama kali terbit pada tahun 1979. Sebelum memutuskan terjun menjadi penulis seutuhnya, Murakami menjalankan bisnis cafe dan jazz club. Menurut pengakuannya, novel pertamanya ini terinspirasi ketika ia sedang menonton pertandingan baseball. Tiba-tiba saja ia yakin bisa menulis novel dan malam harinya ia langsung pulang ke rumah untuk menulis.

Sebenarnya aku cukup telat membaca novel ini. Kenapa? Karena sebagai karya pertama, justru aku membacanya paling terakhir. Novelnya yang pertama kali aku baca adalah Norwegian Wood, Kafka on the Shore, dan IQ84 (3 jilid). Untuk mengikuti perkembangan tulisannya, sebaiknya membaca mulai karya pertama dulu baru kemudian karya selanjutnya sesuai urutan. Sayangnya, tidak semua novelnya diterjemahkan dalam bahasa indonesia dan tidak semua novel yang sudah diterjemahkan selalu ada di toko buku. Aku sendiri cukup lama mencari novel ini. Beberapa bulan kemudian baru mendapatkannya. Itupun masih cetakan lama.

Dalam novel ini, Murakami mengambil sudut pandang orang pertama, Aku. Tokoh aku ini adalah seorang laki-laki berusia 20 tahunan yang mengidolakan seorang penulis Amerika bernama Derek Heartfield. Pada musim panas, tokoh aku sedang mudik ke kampung halamannya, sebuah kota di tepi laut.

Di sana ia bertemu dengan temannya, Nezumi. Mereka sering menghabiskan waktu bersama di Jay’s Bar. Tidak lama kemudian ia bertemu dengan seorang wanita berjari sembilan dan banyak menghabiskan waktu bersama, sampai tidur besama.

Pada awalnya aku agak kesulitan mereview buku ini. Bingung mulainya dari mana. Alurnya maju mundur dan tidak ada konflik yang menegangkan. Tokoh aku sendiri, sebagaimana karakter khas yang sering diciptakan Murakami adalah lelaki tangguh yang tidak banyak omong. Cool. Memandang segala sesuatu serba biasa, tidak berlebihan dan tidak pernah menyalahkan orang lain. Hal ini bisa dilihat dari berbagai macam dialog dan pengambilan keputusannya yang tegas. Atau mungkin dalam bahasa kerennya biasa disebut tipe manusia eksistensialis.

Sebagai seorang lelaki yang sepertinya sudah selesai dengan dirinya sendiri, tokoh aku ini tidak pernah mengeluh dan terlihat seperti tak pernah punya masalah. Meskipun sejatinya setiap manusia pasti punya masalah, tapi tokoh aku di sini mampu menyelesaikan semua masalahnya sendiri sehingga tak pernah mengeluh terhadap orang lain dan tak pernah menyalahkan keadaan. Seakan-akan kesadaran dirinya melebihi manusia lainnya.

Dalam novel ini, tokoh aku lebih banyak menceritakan kehidupan Nezumi dan wanita yang berjari sembilan. Dari relasi sehari-hari dengan kedua temannya itulah kita akan mendapatkan banyak hal dan menemukan dialog-dialog yang penuh makna (atau sama sekali tak bermakna) tentang kehidupan. Tergantung pemahaman masing-masing orang.

Tidak seperti biasanya, novel yang tidak mempunyai alur dan konflik yang jelas biasanya akan cenderung membosankan. Tapi ketika membaca novel ini aku tidak merasa bosan. Mungkin karena kalimatnya pendek-pendek dan mudah dipahami. Isinya cenderung padat dan tidak bertele-tele. Selain itu, saat membaca novel ini tiba-tiba aku terbawa pada suasana kehampaan dan kesepian.

Meskipun tidak dijelaskan secara eksplisit, dari dialog dan adegan antara tokoh aku dan kedua temannya, kita bisa merasakan bagaimana kesepiannya mereka. Rasanya kita bisa melihat isi hati mereka tanpa perlu penjelasan yang berlebihan. Justru dengan kalimat sederhana dan diksi yang tepat, kita jadi sanggup menangkap makna yang lebih dalam dibalik sebuah kata.

Dalam beberapa segi, novel ini tidak jauh berbeda dari novel Murakami lainnya. Setidaknya dari beberapa karyanya yang pernah aku baca, Murakami selalu menyuguhkan adegan seks, bir, rokok, musik, piringan hitam, kehampaan, kesepian, kesendirian, keterasingan, dan kematian. Bagi sebagian orang, novel-novelnya dinilai terlalu vulgar, mengawang-awang, tak punya tujuan yang jelas, semau-maunya sendiri, dan tak menyuguhkan sesuatu yang bermakna.

Maka tak mengherankan kalau orang-orang mengenalnya sebagai penulis novel surealis dan nihilis. Tapi bagi beberapa orang, karya-karyanya dianggap luar biasa dan membawa genre baru dalam dunia kesusasteraan. Sudah banyak penghargaan yang ia dapatkan dari dalam dan luar negeri. Novel ini pun, pada saat ditulis pertama kali langsung memenangi Gunzo Literary Award.

Setelah membaca beberapa novel Murakami, entah benar atau salah aku tak tahu pasti. Tapi rasa-rasanya aku menduga kalau Murakami ini memang seorang eksistensialis, surealis, dan nihilis. Tentu aku tak berusaha untuk menghakimi mana yang benar mana yang tidak benar.

Semua manusia bebas memilih dan punya tanggung jawab atas segala pilihannya. Tapi setidaknya itulah yang aku tangkap dari tulisan-tulisan di novelnya. Bisa jadi itu hanya sekedar karakter atau tema cerita yang diciptakan khusus untuk novel. Tapi bisa jadi itu memang mewakili pandangan dan pikiran pribadinya. Who knows.

Yogyakarta, 20 September 2016



Movie Review: The Forest (2016)



Barang siapa yang sedang bersedih, dilarang memasuki hutan ini. Begitulah kata-kata yang sering diserukan orang-orang mengenai hutan Aokigahara. Hutan ini terletak di kaki Gunung Fuji, Jepang.

Kebanyakan orang mengenalnya dengan nama hutan bunuh diri atau The Suicide Forest. Jadi kalau ada orang yang sengaja masuk sendirian ke hutan ini, maka tidak perlu mencarinya lagi. Bisa dipastikan ia akan mati karena bunuh diri.

Saya sengaja tidak membaca sinopsisnya dulu ketika melihat film ini. Tidak mengetahui juga siapa pemainnya. Karena setelah membaca sinopsis biasanya film itu jadi tak menarik lagi. Tidak lagi membuat penasaran. Jadi saya langsung saja menontonnya.

Pada awal cerita saya melihat sesosok wanita yang cukup familiar. Tapi lupa sering melihatnya di mana. Akhirnya baru teringat kalau dia adalah Natalie Dormer, salah satu pemain serial Game of Thrones yang akhir bulan ini akan menayangkan episode 1 musim ke-enam.

Sara, yang diperankan oleh Natalie Dormer merasakan sesuatu yang tidak beres dengan saudara kembarnya, Jess (diperankan Natalie Dormer juga). Ia menghubungi pihak sekolah di Jepang, katanya sudah beberapa hari Jess pergi ke hutan Aokigahara dan menghilang secara misterius.

Banyak orang yang menyarankan kalau sebaiknya Sara tidak perlu mencarinya lagi. Siapa saja yang sengaja pergi ke hutan Aokigahara, artinya ia memang tidak ingin lagi ditemukan. Namun, Sara tidak percaya. Ia merasa punya ikatan batin yang kuat dengan saudara kembarnya itu. Menurutnya ada sesuatu yang ganjil.

Sara bertekad mencarinya sendiri ke hutan tersebut. Disana ia secara tak sengaja bertemu dengan seorang wartawan bernama Aiden (Taylor Kinney) dan juga relawan pengawas hutan Aokigahara yang bernama Michi (Yukiyoshi Ozawa). Mereka bertiga sepakat memasuki hutan tersebut dan mencari Jess ke seluruh penjuru hutan.

Sebelumnya Sara sudah diingatkan bahwa orang yang bersedih dilarang memasuki hutan ini. Alasannya mereka akan mudah goyah, bisa mendengar dan melihat sesuatu yang tidak masuk akal. Sara, yang sedang bersedih, akhirnya benar-benar mengalami banyak kejadian aneh. Peristiwa demi peristiwa ganjil pun mulai mengacaukan pikirannya. Ia sampai kesulitan untuk membedakan mana kenyataan, mana halusinasi.

Adegan awal sampai pertengahan lumayan menegangkan. Cukup membuat penasaran. Pengambilan gambar selama berada di hutan pun lumayan bagus. Beberapa scene juga membuat kita harus fokus menontonnya biar tidak ada yang terlewatkan.

Sayangnya, sejak tiba-tiba ada hantu bermunculan rasanya saya jadi tidak tertarik lagi. Adegan dan alur cerita yang awalnya menegangkan berubah jadi membosankan. Apalagi endingnya yang menurut saya jauh dari kata menarik.

Sebenarnya saya berharap tidak ada hantu apapun di film ini. Lebih menarik kalau ternyata semua yang dialami di hutan itu hanya sekedar ‘kekacauan’ pikiran karena trauma masa kecil mereka (Sara dan Jess). Sayangnya itu tak sesuai dengan harapan saya. Trauma yang dialami jadinya terkesan dipaksakan agar nyambung dengan berbagai penampakan hantu yang ada. Tidak ada kejutan yang berarti dalam film ini.


Director:
  • Jason Zada

Writers:
  • Ben Ketai
  • Sarah Cornwell
  • Nick Antosca

Stars:
  • Natalie Dormer           (Sara and Jess)
  • Taylor Kinney             (Aiden)
  • Yukiyoshi Ozawa        (Michi)
  • Eoin Macken               (Rob)

Score:
  • 3/5

Salam Pramuka (Khusus dewasa)


Sungguh-sungguh terjadi. Seminggu yang lalu aku janjian dengan salah satu teman SMA dulu. Kita sepakat untuk bertemu pada hari minggu di rumahnya. Tidak ada kesepakatan jam berapa kita akan bertemu.

Biasanya sebelum kesana aku akan sms atau telpon dulu. Jadi mungkin dia berpikir tidak perlu menanyakannya. Toh, aku pasti menghubunginya dulu. Mungkin itu yang ada dipikirannya. Hanya saja, kali ini lain soal.

Kebetulan habis shubuh rasanya ingin jalan-jalan mencari udara segar. Aku memacu motor lurus ke utara. Arah kaliurang lebih segar kalau pagi hari. Setelah puluhan menit muter-muter, aku baru sadar ternyata posisiku lumayan dekat dengan rumah temanku.

Padahal niatnya hanya sekedar jalan-jalan. Daripada bolak-balik, mending sekalian saja aku mampir ke rumahnya. Sejujurnya aku merasa tak enak hati karena tak memberitahunya lebih dulu. Tapi perasaan itu aku kesampingkan. Cuma sekali-kali, pikirku. Jam setengah 6 pagi aku sudah sampai di depan rumahnya.

Tuuttt… tuuttt… tuuttt….  Aku menelponnya. Tidak lama kemudian terdengar suara.

“Halo, ada apa, Lik?”

“Aku di depan rumahmu.”

“Di depan mana?”

“Di depan pintu rumahmu.”

“Hah, yang bener? Bentar-bentar.” Dia menutup telponnya.

Pintu rumah dibuka. Temanku muncul dengan wajah sedikit tegang. Dia memakai seragam pramuka.

“Asemmm... Kok gak bilang dulu kalau mau kesini?” Suaranya pelan. Hampir seperti berbisik. Seakan-akan khawatir ada yang mendengar pembicaraan kami.

“Ya, sorry. Kebetulan tadi habis ada urusan dekat sini. Jadi sekalian saja mampir.”

“Aduh… Aku gak bisa kalau pagi ini. Ada urusan penting.”

“Penting banget ya?”

“Hhmmm.” Katanya dengan nada tidak bersemangat.

“Oh, ya sudah kalau gitu. Eh, tapi kamu ngapain pakai seragam pramuka?" tanyaku heran.

Sejak tadi aku penasaran. Setahuku dia tidak pernah ikut pramuka. Lagipula di sekolah Muhammadiyah dulu juga tidak ada pramuka. Adanya HW (Hizbul Wathan). Dia hanya tersenyum dan sepertinya tak ada tanda-tanda untuk mempersilakan aku masuk ke rumahnya.

“Nanti sore aja ke sini lagi.” Katanya dengan suara yang masih lirih. Rasanya ia ingin aku cepat-cepat pergi.

“Oke. Nanti sore aku ke sini.” Kataku. Ketika bersiap-siap pergi, terdengar suara teriakan dari dalam rumah.

“Kakak… Adek udah siap dihukum nih!”

Penasaran, aku secara spontan melongok ke dalam rumah. Ada seorang cewek memakai seragam pramuka keluar dari kamar. Rok mini dan bajunya benar-benar ketat. Aku tak kuasa untuk tak melihatnya. Meskipun hanya sebentar.

“Uppsss!” Dia kaget melihatku dan langsung berbalik. “Kakak…! Kok gak bilang-bilang sih kalau ada tamu!” teriaknya sambil masuk lagi ke kamar. Sepertinya sejak tadi dia tak tahu kehadiranku karena suara kami memang sangat pelan.

Aku dan temanku saling berpandangan. Aku tak perlu bertanya dan dia juga tak perlu menjelaskan. Kita sama-sama tahu, seakan bisa membaca pikiran masing-masing. Ingin rasanya aku tertawa. Tapi aku sengaja menahannya. Oh, jadi ini urusan yang sangat penting itu.

“Oke, aku balik dulu.” Kataku berpamitan. Dia hanya mengangguk dan sedikit tersenyum malu. Sebelum naik motor, aku membisikinya.

“Jangan lupa, kasih hukuman paling berat. Salam pramuka!” Kataku sambil terkikik-kikik.

Akhirnya aku tidak jadi bertamu ke rumahnya dan langsung balik kos. Selama perjalanan pulang, aku tak fokus menyetir. Masih teringat kejadian tadi. Ingin rasanya aku tertawa berguling-guling diatas aspal. Tapi takut ditabrak kendaraan.

Sekarang aku jadi bingung, bagaimana harus bersikap ketika bertemu dia dan istrinya nanti. Istrinya ini adalah seorang akhwat yang sehari-hari pakai jilbab besar dan sering mengikuti pengajian. Tentu dia malu sekali ketika aku melihatnya tadi. Apa aku pura-pura tidak tahu saja ya? Haha.

Semua ini memang salahku. Seharusnya aku memberitahu dulu kalau mau datang ke rumahnya. Apalagi ke rumah teman yang sudah punya istri. Aku tak tahu apa yang mereka lakukan setelah aku pulang. Jangan dibayangkan. Salam pramuka!



*sumber gambar : www.daftarpustaka.web.id